Slide # 1

Slide # 1

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 2

Slide # 2

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 3

Slide # 3

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 4

Slide # 4

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 5

Slide # 5

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Sabtu, 21 September 2013

Pulau Kipa - 2

"Nah itu dia pulaunya, kita hampir sampai." kata Makta.
 
"Rumahku ada di tanjung itu. Disana juga ada dermaga milikku, berlabuh saja disana."

Setelah beberapa saat, Shiko kembali dari mengecek kapal sebentar tadi.

"Zumar, kapal mengalami sedikit kebocoran pada lambung kapal. Kita harus cepat berlabuh. Air sudah setinggi bahu !"

"Yaa, baiklah. Sedang kuusahakan."





Sampailah mereka disana. Pulau kecil yang sangat indah dan menawan. Yang lebih mengagumkan lagi adalah pulau ini di tengah-tengah samudra. Sangat jarang ada orang yang berkunjung ke pulau ini, hingga pulau ini tidak tercantum dalam peta. Namun kehidupan yang tampak di dusun kecil itu tampak harmonis.

"Kita sudah sampai, aku akan menyiapkan bahan makanan untuk kalian sebagai ucapan terima kasihku." ujar Makta.

"Hmm, yaa terima kasih juga."

"Aku juga akan menyiapkan jala dan kail pancing, aku yakin kalian pasti sangat membutuhkannya."

"Heey, boleh juga."

Yang lain tertawa. Suatu kecerobohan yang sangat amat besar jika berlayar tidak membawa peralatan memancing.

"Apakah setelah ini kalian akan langsung pergi?" tanya Makta.

"Shiko, berapa lama engkau bisa memperbaikinya?" tanya Zumar pada Shiko.

"Kemungkinan sampai besok pagi, kita harus bermalam disini."

"Kalau begitu kalian bisa bermalam di rumahku. Soal makanan jangan khawatir." Makta menawarkan.

Kapal sudah mulai berlabuh. Badai semalam cukup membuat lubang yang besar di lambung depan kapal.

"Ayo kita langsung ke rumahku."

Sesampainya disana, mereka masuk ke rumah Makta. Rumah yang cukup besar untuk dia seorang. Tiada siapapun di rumahnya. Lalu Makta langsung menyiapkan santapan siang untuk mereka.

"Engkau tinggal sendiri?" tanya Raul membuka pembicaraan sambil menikmati hidangan.

"Sebenarnya aku tinggal dengan rekan-rekanku. Karena badai semalam, aku tidak tahu bagaimana mereka sekarang, Aku tidak tahu harus berbuat apa." ujar Makta dengan sedih.

"Lalu bagaimana dengan keluargamu dan keluarga mereka?" Dixio melanjutkan.

"Sudah sejak lama sekali aku tinggal bersama mereka. Istriku sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. Kami belum memiliki anak. Lalu aku bertemu dengan mereka di dusun yang lain di pulau ini. Mereka berdua bersaudara dan belum menikah. Dan kini aku harus hidup sendiri." Makta berpanjang lebar dan semakin sedih.
 
Zumar dan kawan-kawan turut berduka.
 
Selanjutnya mereka terus bercengkrama di meja makan itu. Membahas tentang perjalanan mereka mengarungi lautan. Juga bercerita tentang pulau Kipa ini.

Makan siang sudah selesai dan energi sudah pulih kembali. Setelah makan, mereka beristirahat. Lalu Shiko dan Dixio bergegas membetuli kerusakan kapal.

Sore harinya, datang seorang lelaki dengan tergesa-gesa. Ia ingin memberi tahu Makta sesuatu.

"Makta, ada sesuatu terjadi di dermagamu!"

"Ada apa ?"

"Aku tidak tahu. Asyar dan kawanannya."

"Huhh, mereka lagi. Ayo kita kesana, sepertinya ada masalah dengan kapal kalian." ajak Makta pada Zumar dan kawan-kawannya.

Sampai disana,terlihat belasan orang mengelilingi kapal Zumar. Keadaannya sangat tegang. Beberapa orang berkumpul karena penasaran apa yang  sedang terjadi.
 
"Hey, ada apa ini?" tanya Makta emosi.
 
"Tenang dulu, apa maksudmu membawa orang asing ke daerah ini tanpa seizinku?" tanya Asyar.
 
"Kau melanggar aturanku!" Asyar mulai membentak.
 
Tiba-tiba diantara kelompok Asyar itu mencampakkan ke depan mereka semua Shiko dan Dixio yang sudah diikat seperti binatang. Melihat hal itu, Hachi mulai geram dan terpancing amarahnya. Yang lain pun semakin naik pitam.
 
Makta sangat tidak terima apa yang sudah dilakukan Asyar dan kawanannya pada Shiko dan Dixio. Ia berfikir, mungkin ini juga kesalahannya karena tidak izin jikalau ada pendatang di pulau Kipa ini.
 
Keadaan semakin tegang dan memanas.
 
 
 
 
 

Sabtu, 14 September 2013

Pulau Kipa - 1

Mereka saling memandang satu sama lain. Suasana semakin mencekam. Apa yang dapat mereka lakukan.

"Raul, bukannya kau bersamanya tadi?" Tanya Dixio.

"Sebelum kalian datang membantu. Kulihat dia sedang menjaga layar depan. Dia tetap disana sampai kalian datang. Hingga aku tidak bisa melihatnya lagi setelah kabut tebal datang. Kukira ia masih disana." Raul menjelaskan dengan cemas.

"Mungkin dia masih ada disana," kata Tama.

"Aku akan mencarinya. Shiko kendalikan kapal ini!" kata Zumar.

"Aku ikut denganmu!" pinta Ghano.

"Tidak, aku sendiri yang akan mencarinya. Jangan ada yang mengikutiku! Tunggu aku sampai kami kembali!" kata Zumar dengan tegas.

Zumar langsung bergegas keluar sambil mengambil dan memakai jaketnya. Berlari secepatnya ke tempat Seckha berada. Sampai disana Zumar terhenti dan tidak menemukan Seckha.

"Seckha ..... ! " teriak Zumar.

Tak ada jawaban apapun. Berkali-kali ia memanggil pun tiada hasilnya. Hampir Zumar putus asa merasa kecewa dan sedih. Zumar tak tahu harus berbuat apa. Ia tak akan kembali tanpa Seckha. Lalu ia merasa aneh pada tali yang tergantung ke bawah. Ia hampiri tali yang terikat dengan tiang kapal dan tergantung ke luar di sisi kiri depan kapal. Kemudian ia melihat ke bawah dan langsung tersentak kaget.

"Seckha .... ? "

Seckha hanya diam saja. Badannya lemas dan terikat pada tali itu. Berulang kali ombak datang menghantam tubuhnya. Tergantung tidak berdaya tertumbuk lambung kapal. Zumar terus berteriak memangilnya walaupun Seckha sebenarnya tak sadarkan diri sambil terus menarik tali tersebut.

Stelah sampai diatas, dengan cepat Zumar melepas tali yang masih terikat di tubuh Seckha dan langsung membawanya kembali. Ia dalam keadaan pingsan.

"Seckha, bertahanlah!" harap Zumar sambil terus berlari. Sedangkan Badai masih belum terhenti.

Kemudian ruang kendali seketika menjadi heboh. Panik melihat Zumar datang membawa Seckha yang pingsan.

"Cepat bantu aku ... !"

Langsung saja mereka merebahkannya. Shiko berusaha menekan berkali-kali dada Seckha. Napas buatan tak lupa diberikan untuk menyelamatkannya. Akhirnya setelah beberapa saat ia pun terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya bergetar. Seckha melihat sekelilingnya. Bibirnya yang membiru tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Kau harus istirahat!" kata Gama.

"Baiklah, Akan kuantarkan dia." kata Zumar sambil memapahnya ke kamar.

"Ganti dulu pakaianmu, akan kusuruh Gama menyiapkan minuman hangat untukmu. Tunggulah sebentar!"

"Terima kasih, Zumar," balas Seckha saat Zumar akan pergi.

"Ya, setelah ini kau langsung saja istirahat. Keadaanmu belum membaik." Zumar pun membalasnya lagi dengan senyuman. Lalu ia pun kembali ke teman-temannya yang lain.

"Bagaimana keadaannya?"

"Belum cukup baik. Gama, tolong siapkan minuman hangat untuknya!" pinta Zumar.

"Yang lain boleh istirahat, biar aku yang mengendalikan kapal ini." Perintah Zumar.

"Tidak Zumar, kau yang harus istirahat. Kau tampak kelelahan, biar aku yang ambil alih tugas ini." kata Hachi mendesak. "Bajumu pun masih basah lagi. Istirahatlah!"

 "Baiklah, kuharap besok pagi cuacanya cerah. Bagaimana menurutmu Hachi?"

"Kurasa demikian."

# ~ ~ ~

Matahari sudah terbit memberikan semangat baru. Gelombang, awan hitam dan angin yang menjadi mimpi buruk tadi malam telah pergi terhapus indahnya pagi cerah itu.



 
 
"Teng ... teng ... teng," bunyi lonceng dibunyikan Hachi. "Hey, ayo semuanya bangun!" Kata Hachi bersemangat.

Seperti biasa, Tama bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Kemudian dia langsung ke dapur. Saat membuka lemari makanan, ia teringat bahwa persediaan makanan mereka sudah hampir habis.

"Waduh, makanan sudah habis. Bagaimana bisa aku lupa." katanya.

Dia hanya melihat setoples roti. Dan langsung menghampiri Hachi.

"Hachi, bagaimana ini? Aku lupa kalau bahan makanan kita sudah hampir habis. Aduh, kenapa Gama tidak mengingatkanku." kadu Tama pada Hachi.

"Huh, apa yang bisa kita buat. Coba bangunkan Ghano, kita harus mencari daratan terdekat secepatnya."

Saat mereka membangunkan Ghano, yang lain ikut terbangun.

"Ada apa?" tanya Ghano heran.

"Persediaan makanan kita sudah habis. Bisakah kau mencari daratan atau pulau terdekat? Kita butuh makanan." kata Hachi.

Zumar juga terbangun dan mendengarkan percakapan mereka. Seckha pun sudah pulih semula.

"Maaf tuan, aku lupa membawa peralatan memancing. Tak habis pikir aku bisa melupakannya." Zypto mengaku dengan kecewa.

"Sudahlah, tidak apa-apa."

"Aku tidak yakin disekitar sini ada daratan atau pulau. Kita di tengah-tengah samudra. Lagipula sebenarnya kita sudah tersesat, kawan. Kalau menurut peta, kemungkinan kita berada di laut Pasi. Aku tidak yakin benar." lanjut Ghano.

"Hey, kawan-kawan tunggu sebentar. Lihat apa itu?!" Dixio melihat sesuatu di permukaan air.

Ghano langsung melihat dengan teropongnya. "Ada seorang laki-laki memeluk pada balok kayu. Sepertinya dia terhanyut."

"Ayo kita tolong dia, Semoga dia juga bisa menolong kita." seru Zumar.

"Ayo,..." yang lain menjawab.

"Raul, putar sedikit layarnya ke arah kanan!" kata Zumar.

Kapal menuju ke arah orang tersebut. Semakin dekat, dan terdengarlah suaranya meminta tolong. Dia terlihat sangat lemas.
Zypto melemparkan tali kearahnya dan menyuruhnya mengikatkan tali itu pada badannya.

"Pegangan yang kuat...!"

Lalu ditarik pria itu ke atas. Yang lain lalu mendekatinya.

"Terima kasih banyak pada kalian semua sudah mau menolongku."

"Yaa, siapa engkau?"

"Namaku Makta."

"Ayo kita ke ruang utama." ujar Zumar.

"Jadi bagaimana ceritamu?"

"Aku seorang nelayan."

"Apa katamu..?! Kau mencari ikan ditengah samudra ini?"

"Aku tinggal di dekat sini. di sebuah pulau. Pulau Kipa."

"Tapi di peta tidak ada pulau sama sekali!" Ghano terheran.

"Ya, memang pulau Kipa sangat jarang ada pendatang. Tapi tinggal disana sungguh menyenangkan."

"Terus bagaimana kau bisa terhanyut?"

"Kapalku pecah diserang badai tadi malam. Aku tidak tahu dimana kedua rekanku. Mungkin aku saja yang selamat."

"Yaa, kami juga diserang badai tadi malam. Untung saja kapal ini tidak pecah juga."

"Aku mau pulang, jika kalian bersedia mengantarkanku pulang. Aku harap kalian bukan para bajak laut." kata Makta dengan sangat cemas.

"Tentu saja kami bukan bajak laut. Dan kami juga akan menghantarkanmu pulang."

"Nah itu dia. Kita bisa mendapat bahan makanan disana." sambung Gama.

"Yaa, baiklah. Ayo kita kesana kawan-kawan. Menuju ke pulau Kipa...!" Seru Zumar.

Yang lain tambah bersemangat.




Sabtu, 07 September 2013

Petualangan Dimulai - 2

 "Waktunya makan siang," ujar Gama dan Tama serentak.

"Ayo semuanya berhenti bekerja, kita makan dahulu!" Zumar melihat Zypto masih bekerja. "Zypto, kau juga harus makan!"

Sudah seharian mereka berada di lautan lepas. Tak ada sekalipun mereka melihat daratan. Awal dari perjalanan ini cukup baik.  Mereka masih belum tahu berapa lama mereka akan sampai. Dan mereka juga masih belum tahu bahaya apa yang akan mereka hadapi. Namun mereka tampak sangat menikmati perjalanan ini.

Semua telah berkumpul di meja makan. Makan sambil berbincang melepas penat.

"Zypto, kau tahu kita akan kemana?" tanya Zumar.

Zypto hanyalah seorang budak milik Zumar. Ia sangat patuh pada Zumar. Jadi dia hanya menurut saja apa yang diperintahkan. Dia paling muda diantara yang lainnya. Pria paruh baya yang gagah perkasa dan taat adalah sifatnya.

"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.

Satu lagi dari sifatnya yaitu sangat sedikit berbicara, namun ia selalu mau melakukan apapun. Zumar sebenarnya sudah menganggap Zypto sebagai saudaranya.

"Kita akan pergi ke suatu tempat yang bernama Vela di negeri Maltis. Disana seperti surga, sangat indah sekali. Itu yang aku dengar karena aku pun belum pernah pergi ke sana."

"Yaa, kita akan bersenang-senang disana. Apapun yang kita inginkan. Haa..haaa...." Sahut yang lain.

"Ohh yaa Zypto, kau mungkin masih belum kenal dengan teman-temanku." kata Zumar. "Yang berbadan besar ini adalah Hachi. Yang berkaca mata itu Saru Ghano. Yang berotot itu Samy Raul. Yang kembar, Gama dan Tama. Yang tinggi ini adalah Shiko. Yang berkulit putih ini Dixio Mori. Dan yang diujung sana adalah Seckha. Mereka ini sobat-sobatku." Zumar berpanjang lebar.

"Senang kenal dengan tuan-tuan semua," ujarnya ramah sambil tersenyum.

"Anggap saja kami ini keluargamu, santai saja." Ghano melanjutkan.

"Dan jangan lupa kuperkenalkan pada kalian semua kapalku ini. Ini kubeli dari uang pensiunku. Haa...haaa....." Zumar membanggakan kapal besarnya. Yang lain ikut tertawa.

# ~ ~ ~

Dua minggu sudah mereka berlayar. Sejauh ini masih baik-baik saja. Mereka makin tidak sabar untuk sampai kesana.

"Kawan-kawan, aku mempunyai firasat buruk tentang cuaca sore nanti," keluh Hachi.
 

"Apa maksudmu? Apakah akan terjadi badai?" tanya Zumar cemas.
 
"Ya, badai yang sangat besar. Air laut pun sudah bergelombang. Kita harus bersiap!"
 
"Apakah kita tidak bisa menghindarinya?"
 
"Kita di lautan, bung. Kita mau kemana lagi? Mau tidak mau kita harus bersiap melawan badai ini."
 
Setelah hari menjelang sore, benar yang dikatakan Hachi. Awan hitam mendung menutupi seluruh langit. Angin kencang mulai datang dan gelombang air laut semakin besar. Kapal ini mulai berguncang.
 
"Semuanya bantu Seckha dan Raul mengatur posisi layar!" teriak Zumar. "Angin datang dari utara. Jadi kita harus mengikuti arah arus angin dan arus air laut!"
 
"Sekarang kita menuju ke arah barat. Jika kita ke arah selatan mengikuti angin dan air laut. Kita keluar dari jalur, kita bisa tersesat!" beritahu Ghano.
 
"Kapal ini akan pecah dan hancur diterjang ombak jika kita terus melawan arus. Sudah, laksanakan saja perintahku!"
 
Mereka semua panik sambil terus mengatur layar. Sementara Zumar dengan susah payah mengendalikan kemudi. Inilah rintangan pertama yang mereka hadapi.
 
Badai semakin besar. Petir tiada henti-hentinya menyambar. Kabut hitam menyelimuti lautan. Hari seperti sudah malam. Kemudian hujan mulai turun. Kapal terus terombang-ambing.
 

Situasi semakin tidak terkendali. Badai semakin mengamuk. Keadaan ini sangat berbahaya.

"Semuanya masuklah! Diluar sangat berbahaya. Tinggalkan saja dulu," kata Zumar. "Tidak ada gunanya lagi...!"

Lalu mereka semua masuk ke ruang utama, dimana Zumar mengendalikan kapal. Mereka terduduk dengan wajah cemas.
 
Mereka hanya terdiam di tengah ributnya badai. Kemudian Zumar yang sedang memegang setir kendali menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya. Ia juga merasa cemas. Setelah beberapa saat ia merasa ada yang tidak beres.
 
"Dimana Seckha,...!!!???"