"Waktunya makan siang," ujar Gama dan Tama serentak.
"Ayo semuanya berhenti bekerja, kita makan dahulu!" Zumar melihat Zypto masih bekerja. "Zypto, kau juga harus makan!"
"Ayo semuanya berhenti bekerja, kita makan dahulu!" Zumar melihat Zypto masih bekerja. "Zypto, kau juga harus makan!"
Sudah seharian mereka berada di lautan lepas. Tak ada sekalipun mereka melihat daratan. Awal dari perjalanan ini cukup baik. Mereka masih belum tahu berapa lama mereka akan sampai. Dan mereka juga masih belum tahu bahaya apa yang akan mereka hadapi. Namun mereka tampak sangat menikmati perjalanan ini.
Semua telah berkumpul di meja makan. Makan sambil berbincang melepas penat.
"Zypto, kau tahu kita akan kemana?" tanya Zumar.
Zypto hanyalah seorang budak milik Zumar. Ia sangat patuh pada Zumar. Jadi dia hanya menurut saja apa yang diperintahkan. Dia paling muda diantara yang lainnya. Pria paruh baya yang gagah perkasa dan taat adalah sifatnya.
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
Satu lagi dari sifatnya yaitu sangat sedikit berbicara, namun ia selalu mau melakukan apapun. Zumar sebenarnya sudah menganggap Zypto sebagai saudaranya.
"Kita akan pergi ke suatu tempat yang bernama Vela di negeri Maltis. Disana seperti surga, sangat indah sekali. Itu yang aku dengar karena aku pun belum pernah pergi ke sana."
"Yaa, kita akan bersenang-senang disana. Apapun yang kita inginkan. Haa..haaa...." Sahut yang lain.
"Ohh yaa Zypto, kau mungkin masih belum kenal dengan teman-temanku." kata Zumar. "Yang berbadan besar ini adalah Hachi. Yang berkaca mata itu Saru Ghano. Yang berotot itu Samy Raul. Yang kembar, Gama dan Tama. Yang tinggi ini adalah Shiko. Yang berkulit putih ini Dixio Mori. Dan yang diujung sana adalah Seckha. Mereka ini sobat-sobatku." Zumar berpanjang lebar.
"Senang kenal dengan tuan-tuan semua," ujarnya ramah sambil tersenyum.
"Anggap saja kami ini keluargamu, santai saja." Ghano melanjutkan.
"Dan jangan lupa kuperkenalkan pada kalian semua kapalku ini. Ini kubeli dari uang pensiunku. Haa...haaa....." Zumar membanggakan kapal besarnya. Yang lain ikut tertawa.
# ~ ~ ~
Dua minggu sudah mereka berlayar. Sejauh ini masih baik-baik saja. Mereka makin tidak sabar untuk sampai kesana.
"Kawan-kawan, aku mempunyai firasat buruk tentang cuaca sore nanti," keluh Hachi.
"Apa maksudmu? Apakah akan terjadi badai?" tanya Zumar cemas.
"Ya, badai yang sangat besar. Air laut pun sudah bergelombang. Kita harus bersiap!"
"Apakah kita tidak bisa menghindarinya?"
"Kita di lautan, bung. Kita mau kemana lagi? Mau tidak mau kita harus bersiap melawan badai ini."
Setelah hari menjelang sore, benar yang dikatakan Hachi. Awan hitam mendung menutupi seluruh langit. Angin kencang mulai datang dan gelombang air laut semakin besar. Kapal ini mulai berguncang.
"Semuanya bantu Seckha dan Raul mengatur posisi layar!" teriak Zumar. "Angin datang dari utara. Jadi kita harus mengikuti arah arus angin dan arus air laut!"
"Sekarang kita menuju ke arah barat. Jika kita ke arah selatan mengikuti angin dan air laut. Kita keluar dari jalur, kita bisa tersesat!" beritahu Ghano.
"Kapal ini akan pecah dan hancur diterjang ombak jika kita terus melawan arus. Sudah, laksanakan saja perintahku!"
Mereka semua panik sambil terus mengatur layar. Sementara Zumar dengan susah payah mengendalikan kemudi. Inilah rintangan pertama yang mereka hadapi.
Badai semakin besar. Petir tiada henti-hentinya menyambar. Kabut hitam menyelimuti lautan. Hari seperti sudah malam. Kemudian hujan mulai turun. Kapal terus terombang-ambing.
Situasi semakin tidak terkendali. Badai semakin mengamuk. Keadaan ini sangat berbahaya.
"Semuanya masuklah! Diluar sangat berbahaya. Tinggalkan saja dulu," kata Zumar. "Tidak ada gunanya lagi...!"
Lalu mereka semua masuk ke ruang utama, dimana Zumar mengendalikan kapal. Mereka terduduk dengan wajah cemas.
Mereka hanya terdiam di tengah ributnya badai. Kemudian Zumar yang sedang memegang setir kendali menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya. Ia juga merasa cemas. Setelah beberapa saat ia merasa ada yang tidak beres.
"Dimana Seckha,...!!!???"






