Slide # 1

Slide # 1

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 2

Slide # 2

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 3

Slide # 3

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 4

Slide # 4

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 5

Slide # 5

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Sabtu, 14 September 2013

Pulau Kipa - 1

Mereka saling memandang satu sama lain. Suasana semakin mencekam. Apa yang dapat mereka lakukan.

"Raul, bukannya kau bersamanya tadi?" Tanya Dixio.

"Sebelum kalian datang membantu. Kulihat dia sedang menjaga layar depan. Dia tetap disana sampai kalian datang. Hingga aku tidak bisa melihatnya lagi setelah kabut tebal datang. Kukira ia masih disana." Raul menjelaskan dengan cemas.

"Mungkin dia masih ada disana," kata Tama.

"Aku akan mencarinya. Shiko kendalikan kapal ini!" kata Zumar.

"Aku ikut denganmu!" pinta Ghano.

"Tidak, aku sendiri yang akan mencarinya. Jangan ada yang mengikutiku! Tunggu aku sampai kami kembali!" kata Zumar dengan tegas.

Zumar langsung bergegas keluar sambil mengambil dan memakai jaketnya. Berlari secepatnya ke tempat Seckha berada. Sampai disana Zumar terhenti dan tidak menemukan Seckha.

"Seckha ..... ! " teriak Zumar.

Tak ada jawaban apapun. Berkali-kali ia memanggil pun tiada hasilnya. Hampir Zumar putus asa merasa kecewa dan sedih. Zumar tak tahu harus berbuat apa. Ia tak akan kembali tanpa Seckha. Lalu ia merasa aneh pada tali yang tergantung ke bawah. Ia hampiri tali yang terikat dengan tiang kapal dan tergantung ke luar di sisi kiri depan kapal. Kemudian ia melihat ke bawah dan langsung tersentak kaget.

"Seckha .... ? "

Seckha hanya diam saja. Badannya lemas dan terikat pada tali itu. Berulang kali ombak datang menghantam tubuhnya. Tergantung tidak berdaya tertumbuk lambung kapal. Zumar terus berteriak memangilnya walaupun Seckha sebenarnya tak sadarkan diri sambil terus menarik tali tersebut.

Stelah sampai diatas, dengan cepat Zumar melepas tali yang masih terikat di tubuh Seckha dan langsung membawanya kembali. Ia dalam keadaan pingsan.

"Seckha, bertahanlah!" harap Zumar sambil terus berlari. Sedangkan Badai masih belum terhenti.

Kemudian ruang kendali seketika menjadi heboh. Panik melihat Zumar datang membawa Seckha yang pingsan.

"Cepat bantu aku ... !"

Langsung saja mereka merebahkannya. Shiko berusaha menekan berkali-kali dada Seckha. Napas buatan tak lupa diberikan untuk menyelamatkannya. Akhirnya setelah beberapa saat ia pun terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya bergetar. Seckha melihat sekelilingnya. Bibirnya yang membiru tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Kau harus istirahat!" kata Gama.

"Baiklah, Akan kuantarkan dia." kata Zumar sambil memapahnya ke kamar.

"Ganti dulu pakaianmu, akan kusuruh Gama menyiapkan minuman hangat untukmu. Tunggulah sebentar!"

"Terima kasih, Zumar," balas Seckha saat Zumar akan pergi.

"Ya, setelah ini kau langsung saja istirahat. Keadaanmu belum membaik." Zumar pun membalasnya lagi dengan senyuman. Lalu ia pun kembali ke teman-temannya yang lain.

"Bagaimana keadaannya?"

"Belum cukup baik. Gama, tolong siapkan minuman hangat untuknya!" pinta Zumar.

"Yang lain boleh istirahat, biar aku yang mengendalikan kapal ini." Perintah Zumar.

"Tidak Zumar, kau yang harus istirahat. Kau tampak kelelahan, biar aku yang ambil alih tugas ini." kata Hachi mendesak. "Bajumu pun masih basah lagi. Istirahatlah!"

 "Baiklah, kuharap besok pagi cuacanya cerah. Bagaimana menurutmu Hachi?"

"Kurasa demikian."

# ~ ~ ~

Matahari sudah terbit memberikan semangat baru. Gelombang, awan hitam dan angin yang menjadi mimpi buruk tadi malam telah pergi terhapus indahnya pagi cerah itu.



 
 
"Teng ... teng ... teng," bunyi lonceng dibunyikan Hachi. "Hey, ayo semuanya bangun!" Kata Hachi bersemangat.

Seperti biasa, Tama bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Kemudian dia langsung ke dapur. Saat membuka lemari makanan, ia teringat bahwa persediaan makanan mereka sudah hampir habis.

"Waduh, makanan sudah habis. Bagaimana bisa aku lupa." katanya.

Dia hanya melihat setoples roti. Dan langsung menghampiri Hachi.

"Hachi, bagaimana ini? Aku lupa kalau bahan makanan kita sudah hampir habis. Aduh, kenapa Gama tidak mengingatkanku." kadu Tama pada Hachi.

"Huh, apa yang bisa kita buat. Coba bangunkan Ghano, kita harus mencari daratan terdekat secepatnya."

Saat mereka membangunkan Ghano, yang lain ikut terbangun.

"Ada apa?" tanya Ghano heran.

"Persediaan makanan kita sudah habis. Bisakah kau mencari daratan atau pulau terdekat? Kita butuh makanan." kata Hachi.

Zumar juga terbangun dan mendengarkan percakapan mereka. Seckha pun sudah pulih semula.

"Maaf tuan, aku lupa membawa peralatan memancing. Tak habis pikir aku bisa melupakannya." Zypto mengaku dengan kecewa.

"Sudahlah, tidak apa-apa."

"Aku tidak yakin disekitar sini ada daratan atau pulau. Kita di tengah-tengah samudra. Lagipula sebenarnya kita sudah tersesat, kawan. Kalau menurut peta, kemungkinan kita berada di laut Pasi. Aku tidak yakin benar." lanjut Ghano.

"Hey, kawan-kawan tunggu sebentar. Lihat apa itu?!" Dixio melihat sesuatu di permukaan air.

Ghano langsung melihat dengan teropongnya. "Ada seorang laki-laki memeluk pada balok kayu. Sepertinya dia terhanyut."

"Ayo kita tolong dia, Semoga dia juga bisa menolong kita." seru Zumar.

"Ayo,..." yang lain menjawab.

"Raul, putar sedikit layarnya ke arah kanan!" kata Zumar.

Kapal menuju ke arah orang tersebut. Semakin dekat, dan terdengarlah suaranya meminta tolong. Dia terlihat sangat lemas.
Zypto melemparkan tali kearahnya dan menyuruhnya mengikatkan tali itu pada badannya.

"Pegangan yang kuat...!"

Lalu ditarik pria itu ke atas. Yang lain lalu mendekatinya.

"Terima kasih banyak pada kalian semua sudah mau menolongku."

"Yaa, siapa engkau?"

"Namaku Makta."

"Ayo kita ke ruang utama." ujar Zumar.

"Jadi bagaimana ceritamu?"

"Aku seorang nelayan."

"Apa katamu..?! Kau mencari ikan ditengah samudra ini?"

"Aku tinggal di dekat sini. di sebuah pulau. Pulau Kipa."

"Tapi di peta tidak ada pulau sama sekali!" Ghano terheran.

"Ya, memang pulau Kipa sangat jarang ada pendatang. Tapi tinggal disana sungguh menyenangkan."

"Terus bagaimana kau bisa terhanyut?"

"Kapalku pecah diserang badai tadi malam. Aku tidak tahu dimana kedua rekanku. Mungkin aku saja yang selamat."

"Yaa, kami juga diserang badai tadi malam. Untung saja kapal ini tidak pecah juga."

"Aku mau pulang, jika kalian bersedia mengantarkanku pulang. Aku harap kalian bukan para bajak laut." kata Makta dengan sangat cemas.

"Tentu saja kami bukan bajak laut. Dan kami juga akan menghantarkanmu pulang."

"Nah itu dia. Kita bisa mendapat bahan makanan disana." sambung Gama.

"Yaa, baiklah. Ayo kita kesana kawan-kawan. Menuju ke pulau Kipa...!" Seru Zumar.

Yang lain tambah bersemangat.